23 Maret 2010

Mengembangkan Pupuk Organik


Selama ini isu kenaikan harga pupuk bersubsidi sudah muncul sejak penetapan APBN 2010. Namun belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat. Gubernur Jawa Tengah telah mengirimkan Surat nomor 521.3/03928 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 11 Maret 2010 yang menolak rencana kenaikan harga pupuk bersubsidi, karena kenaikan pupuk saat ini akan membebani petani. Namun apabila pemerintah pusat tetap menaikkan harga pupuk, pemprov meminta agar kenaikan harga maksimal hanya 10% dari harga saat ini.

Di sisi lain, kenaikan harga pupuk urea justru memberi peluang untuk kesejahteraan petani dalam jangka panjang. Yang pertama, kenaikan harga pupuk tentu akan men­dorong tumbuhnya pertanian organik, kedua pada jangka pendek petani yang biasa me­nikmati pupuk subsidi akan mengeluh. Tetapi kalau melihat lebih luas bahwa subsidi pada dasarnya dinikmati oleh pabrik dan distributor pupuk, maka pupuk yang mahal justru akan mendorong rasionalisasi peng­gunaan pupuk petani.

Pengembangan pupuk or­ganik dinilai akan menumbuh­kan sektor peternakan karena selama ini bahan baku pupuk organik masih sangat kurang. Caranya dengan mengubah sikap dan kesadaran petani, yakni tidak bergantung pada pupuk produksi pabrik dan pupuk kimia. Mereka bisa mencoba mengembangkan pupuk organik untuk kebutuhan sendiri. Untuk itu, kenaikan HET pupuk bersubsidi seharusnya bisa men­jadi momentum untuk meya­kinkan petani beralih ke pupuk organik. Tidak hanya karena ni­lai ekonomisnya, tetapi juga de­mi pertanian yang lestari.

Selain itu, pupuk organik juga akan menyelesaikan problem sampah kota sehingga bisa menjadi solusi menyelesaikan isu lingkungan. Hal ini juga terungkap pada saat Menteri Pertanian Suswono meres­mikan pabrik pupuk organik di Klaten, belum lama ini.( dikutib dari http://www.jatengprov.go.id/ )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar